Senin, 19 Oktober 2020

ULASAN PADAT BUKU JUZ 'AMMA TAFSIR AL AZHAR



Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Semangat pagi dari kota Cilacap Bercahaya. Semoga kita senantiasa dalam keadaan sehat dan bahagia senantiasa. Aamiin.

Perkenankanlah, saya, Joko Septiono, salah satu pegawai Al Azhar Cilacap berpartisipasi dalam event Bulan Bahasa: Mengintip Jendela Dunia, Never Stop Reading.

***

Pada hari ini, Senin, 19 Oktober 2020 dari Rumah Clever di Cilacap, saya akan mengulas secara padat, buku pertama:

Judul: JUZ 'AMMA TAFSIR AL-AZHAR
Diperkaya dengan Pendekatan Sejarah, Sosiologi, Tasawuf, Ilmu Kalam, Sastra dan Psikologi.

Penulis: Prof. Dr. Hamka

Penyunting: Dadi MHB dan Joko Waskito

Penerbit: Gema Insani

Tahun: 2015 (Cetakan Pertama)

ISBN: 978-602-250-285-2

Harga Kisaran: Rp143. 000,-

Berikut ulasannya:

***

Buku berjudul Juz 'Amma Tafsir Al-Azhar ini sangat menarik untuk dibaca. Sebagai orang awam dalam beragama saya cukup bisa memahami dengan cepat meskipun buku tafsir ini bergenre non fiksi murni tapi ia lebih mudah dipahami sebab  ditulis dengan gaya yang berbeda oleh sang ahli.

Buku tafsir ini berbeda, dari tafsir lain yang umumnya terkesan sangat kaku dalam bahasa dan butuh waktu untuk memahami apa yang ditulis di dalamnya. Ini sangat mungkin terjadi sebab dalam penyusunannya saja butuh waktu puluhan tahun lamanya.

Tafsir Al-Azhar adalah hasil karya terbesar dari ulama ternama yaitu Prof. Dr. Abdul Malik Karim Amrullah atau HAMKA yang lahir di Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada 17 Februari 122 tahun yang lalu.

Dalam penyusunannya Tafsir Al-Azhar, Buya HAMKA menggunakan metode tahlili (analitis), tafsir Al Qur'an dengan hadits, pendapat sahabat dan tabi'in, tafsir dengan tafsir muktabar, penggunaan syair, menggunakan analisis bil ma'tsur, menggunakan kemampuan analisis sendiri, dan disusun tanpa pertikaian antar-madzhab.

Buku yang menitikberatkan penjelasan ayat-ayat Al-Qur'an dengan ungkapan yang teliti, menjelaskan makna-makna yang dimaksudkan dengan bahasa yang indah dan menarik juga menghubungkan realitas sosial dan sistem budaya yang ada ini sungguh tidak membuat orang yang membacanya bosan meski termasuk dalam kategori buku tebal dengan jumlah sekitar 337 halaman dengan ukuran hampir sama dengan kertas A4.

Penulis buku ini membicarakan permasalahan sejarah, sosial, dan budaya di Indonesia. Penulis juga mendemonstrasikan keluasan pengetahuan, menekankan pemahaman ayat secara menyeluruh (mengutip ulama-ulama terdahulu), mendialogkan antara teks Al-Quran dengan kondisi umat Islam saat tafsir ini ditulis.

Buku ini merupakan edisi khusus Juz 'Amma Tafsir Al-Azhar (Juz 30) yang wajib dimiliki oleh semua karena jujur setelah membaca buku ini saya semakin termotivasi untuk terus belajar dan mengkaji Al-Qur'an karena siapapun yang berjuang mencari ilmu karena Allah akan dijaga setiap langkah perjalanannya sampai ia kembali.

Al-Qur'an mengandung segala macam ilmu Islam: ilmu tauhid, tasawuf, fiqih, sejarah, ilmu jiwa,  akhlak dan ilmu alam dengan segala cabangnya. (Halaman 4)

Oleh sebab Al-Qur'an adalah bacaan, seyogyanyalah bagi orang yang beragama Islam memfasihkan bacaannya dan mendidik lidah anak-anaknya, menyerahkan anak-anak kepada guru-guru yang fasih membacanya karena Al-Qur'an adalah untuk dibaca dan diamalkan. Sebab Al-Qur'an itulah yang telah membentuk kebudayaan dan peri-peri penganut Islam, yang ditegakkan di atas budi, memperhalus perasaan, memperkaya ingatan, dan melemahlembutkan ucapan lidah. (Halaman 10)

Demikian juga, kalau dikaji secara saksama segala undang-undang dan hukum yang ada dalam Al-Qur'an itu, adalah dia perseimbangan di antara hak dan kewajiban antara hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia sesamanya, berlandaskan persaudaraan, dan kemerdekaan dengan sebenarnya dan sejujurnya. (Halaman 20)

Pendeknya, betapapun keahlian kita memahami arti dari tiap-tiap kalimat Al-Qur'an kalau kita hendak jujur beragama, tidak dapat tidak, kita mesti memperhatikan bagaimana pendapat ulama-ulama yang terdahulu, terutama Sunnah Rasul, pendapat sahabat-sahabat Rasulullah, dan tabi'in, serta ulama ikutan kita. (Halaman 36)

Ini adalah Tafsir Al-Azhar juz yang ke-30. Bersyukurlah kita kepada Allah karena 37 surah yang terakhir dalam susunan 114 surah Al-Qur'an, yang sanggup kita menghafalnya dan kerapkali kita membacanya saat salat. Syukur alhamdulillah karena 37 surah bacaan kita sehari-hari ini telah dapat kita hidangkan tafsirnya, sejak surah an-Naba', surah ke-78, hingga surah an-Naas, yaitu surah ke-144.

Pada surah-surah yang pendek ini terdapat ilmu pengetahuan yang mendalam dan jitu. Banyak sekali pengajaran terkandung di dalamnya untuk dijadikan pedoman dalam kehidupan kita. Dengan kata-kata pendek dan tegas, mengenai sasaran-sasaran penting sebagaimana yang selalu didapat pada surah-surah Makiyyah, kita dapat mengambil pengetahuan yang banyak di dalamnya. Dan memanglah di dalam Juz 30 (atau Juz 'Amma) ini hanya ada tiga surah saja yang diturunkan di Madinah, yaitu surah al-Bayyinah, surah al-Maa'uun, dan surah an-Nashr. Adapun yang lain, selebihnya, 34 surah, para ulama-ulama ahli tafsir dan Asbabun Nuzul cenderung mengatakan semua turun di Mekah. Maka terasalah oleh kita suasana surah-surah yang turun di Mekah itu ketika membacanya, penuh tantangan (tahaddi) kepada orang yang kafir, musyrik dan ingkar. (Halaman 95)

Demikian ulasan buku pertama ini saya tuliskan, mohon maaf jika ada kekurangan atau kesalahan. Semoga berkenan dan bermanfaat bagi kita sekalian. Aamiin.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Salam santun
Ayah Jesi
Joko Septiono

#mengintipjendeladunia
#bulanbahasaalazharcilacap
@alazharcilacap
@lazalazharcilacap

Rabu, 30 September 2020

AYAH JESI BERENANG PART 1

 




Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Apa kabar teman-teman? Jumpa lagi dengan Ayah Jesi ya setelah sekian lama. Banyak hari, banyak cerita dan banyak kisah tentunya. So, tak perlu nunggu lama, di blog ini akan saya sajikan beragam cerita dan kisah yang semoga saja menarik untuk disimak.

 

BERIKUT CERITA YANG PERTAMA:

 

AYAH JESI BERENANG PART 1

Joko Septiono

@RumahClever, Cilacap, 30 September 2020: 19.40


Menghadapi musim pandemik yang belum berakhir dan masih terus menghangat dengan isu yang berkembang membuat lembaga memberikan kebijakan kepada setiap pegawainya untuk lebih bisa menjaga kesehatan, salah satunya dengan berolah raga. Lembaga pun memberi beberapa pilihan cabang olahraga diantaranya voli, senam, futsal, renang dan bulutangkis.


Menindaklanjuti kebijakan itu maka saya memutuskan untuk memilih olahraga renang. Mengingat saya yang memang belum bisa berenang juga karena waktu pelaksanaannya yang sangat memungkinkan untuk bisa mengikutinya.


Hari Jum'at siang menjadi awal mula kegiatan berolahraga berenang dimulai. Bertempat di sebuah water park yang berada di dekat kantor saya dan beberapa rekan kerja mulai berkumpul untuk bersiap.


Dengan bermodal tekad dan semangat yang tinggi saya yakin akan bisa. Lagi pula saya sudah sedikit bisa berenang menjadi modal tambahan. Meski tanpa tehnik yang benar dan sesuai aturan yang seharusnya.


Dibawah terik matahari yang sudah kelewatan tinggi saya dan rekan yang lain mulai berkumpul di tepian kolam. Bersiap dengan pakaian renang dan tentunya perlengkapan penunjang lainnya seperti kacamata dan papan pelampung.


"Mari kita pemanasan dulu sebelum masuk ke kolam!" Kata pak Imam selaku pelatih.


Saya pun mulai melakukan gerakan ringan untuk melemaskan otot-otot tubuh. Menggelengkan kepala hingga menekuk kaki kebelakang untuk menarik otot kaki dan paha supaya tidak kaku.


Tak butuh waktu lama saya melakukan pemanasan di tepian kolam. Sungguh tak sabar ingin rasanya segera masuk ke kolam merasakan kesegarannya. Kilauan bening airnya sungguh menggoda. Ditambah lagi warna biru dinding dan dasar kolam yang terlihat begitu menyejukkan mata siapapun yang melihatnya.


"Wah...dingin banget" ucapku seketika begitu  menceburkan tubuh ini ke kolam yang tak begitu dalam.


Sedikit mendengarkan arahan pelatih sembari melakukan gerakan ringan sebagai awalan. Sedikit takut dan berdebar jantung ini, maklum sudah cukup lama tidak bermain air seperti ini. Meski begitu saya siap mencoba untuk berenang.


"Maaf pak Joko gerakannya masih kaku sekali" kata pak imam memberi koreksi.


Saya pun segera menghentikan gerakan yang sedang dilakukan. Dengan sedikit tertatih berjalan di dalam air saya menghampiri pak Imam yang tengah berdiri di tepian kolam.


"Yang benar gimana pak?" Tanyaku balik.


Pak imam pun memberikan contoh gerakan gaya katak yang benar. Saya memperhatikan dengan seksama penuh semangat meski dinginnya air mulai menguasai keadaan.


Beberapa kali melihat dan mendengar arahan pak Imam, saya mulai sedikit mengerti walau belum secara benar keseluruhannya.


Hampir satu jam lebih saya berada di dalam kolam. Hawa dingin yang tadinya sangat terasa kini mulai meninggalkan tubuh ini. Walau belum dinyatakan berhasil aku terus bersemangat mencoba dan terus belajar. Saya yakin usaha yang sungguh-sungguh pasti akan membuahkan hasil terbaik. Bukan tidak mungkin suatu saat kelak saya akan bisa berenang dengan benar dan bisa mengajarkan ilmu yang saya dapat kepada orang lain.


Semangat terus pantang menyerah karena segalanya butuh proses yang tak mudah.

 

Bersambung ...

Jumat, 28 Februari 2020

Nulis Bareng Youthpress: Tugas Surat: "Sepenggal Mimpi" Oleh Joko Septiono



Sepenggal mimpi untuk Ibu

Dear Ibu

Hidup itu ujian ya Bu...

Ya Bu, hidup adalah sebuah ungkapan yang mungkin selaras dengan apa yang kujalani. Hidup dalam belenggu keterbatasan ekonomi dan status sosial salah satunya. Melewatkan masa kecil demi tanggungjawab yang harus dipikul lebih dini.

Bagaimana tidak, Bu? 

Sebagai anak pertama dari 5 bersaudara aku sangat merasakan itu. Namun mau tidak mau, harus dan harus, aku tetap menjalaninya walau terkadang menangis pilu. 

Senyum riang tetap kusuguhkan  untuk mereka adik-adik tercinta.

Karena alasan itulah ibu meninggalkan kami semua. Bukan tanpa alasan ibu pergi menjauh dari pelukan anak-anakmu, Bu. 

Faktor ekonomi menjadi alasan kuat untukmu meninggalkan keluargamu, meninggalkan Kamis semua di sini. 

Harapan besar dari orangtua agar anak-anaknya hidup jauh lebih baik, itu pasti 

Kepergianmu ke luar negeri menjadi jalan yang ibu tempuh dengan harapan mampu memperbaiki keadaan ekonomi keluarga serta membahagiakan anak-anakmu. 

Menyekolahkan aku dan adik-adik agar lebih bisa menatap masa depan yang lebih baik. Impian dan perjuangan yang begitu sangat mulia tentu.

Harapan penuh tercurah dari hati kami anak-anakmu, ibu...

Kami yang selalu merindukan kehadiran dan pelukanmu. Rindu yang tumbuh dalam hati masih harus terpendam dalam. Hanya doa terbaik tak henti kupanjatkan untukmu. Semoga selalu mendapat yang terbaik dari yang Maha Kuasa.

Sungguh anugerah terindah saat kami bisa bersua dengan ibu. Merajut mimpi yang terbentang di depan mata. Melebur segala rasa yang lama tersimpan dalam dada. 

Ibu kami menantimu kembali di sini. Bercengkerama penuh canda dan tawa bersama.

Dari anakmu yang menggenggam sepenggal mimpi untuk Ibu....

Rabu, 12 Februari 2020

Nulis Bareng Youthpress: Tugas Cerpen: "100 Juta" Oleh Joko Septiono



Hidup adalah perjuangan, mungkin itu sangat tepat dengan apa yang kujalani dalam hidup saat ini. Sebagai anak pertama dari 3 bersaudara aku harus bisa menjaga keutuhan dan keharmonisan hubungan kami sekeluarga. Tak terkecuali dengan kedua adikku yang memang masih belum cukup dewasa untuk berfikir tentang hal tersebut.

Kebahagian mereka adalah prioritas utama yang menjadikan semua bisa berjalan baik. Tak peduli bagaimana pun keadaanku sendiri. Membuat mereka senang dan bahagia itu rasanya sudah cukup menjadi kado terindah untukku. Juga senyum kedua orang tua yang pastinya selalu menjadi penyemangat dalam menjalani hari demi hari. 

Terlepas dari itu semua aku juga harus tetap fokus pada kehidupan sendiri. Sebagai dewasa muda yang beranjak menjadi orang dewasa sesungguhnya akan sangat wajar jika mulai berfikir tentang masa depan sendiri. Jodoh, karir dan kemandirian masih menjadi PR besar dalam hidupku saat ini.

Seperti pagi ini kala sang mentari belum juga muncul dari ufuk timur. Hawa dingin pedesaan masih menusuk sum-sum tulang. Embun pagi juga belum meninggalkan dedaunan yang masih tertidur. Aku sudah bersiap dengan jaket warna biru kesukaan yang melekat di badan. Juga sebuah helm bogo warna merah marun sudah terpasang lengkap di kepala.

"Cinta, kamu mau kemana sepagi ini kok udah siap-siap?" Tanya mamah sembari menyiapkan sarapan untuk kami semua.

"Mau ke kota Mah, ada yang perlu di urus di sana." Jawabku singkat

"Tapi apa harus sepagi ini?" Lanjut mamah.

"Iya mah biar gak kesiangan." Jelasku tegas.

Aku pun berlalu meninggalkan mamah yang masih sibuk menyiapkan sarapan untuk ayah dan kedua adikku. Terlihat sesekali ibu melirik kepadaku seolah ingin mencari tahu lebih dalam mengenai kepergianku pagi ini. 

Di bawakannya secangkir teh hangat manis kesukaanku. Aku pun meneguknya perlahan. Lumayanlah dapat menghangatkan perutku yang masih dingin.

Kukeluarkan motor Vario warna putih dan langsung, kunyalakan mesinnya lewat tombol start untuk memanaskannya. Gawa di dalam tas terdengar berdering. Terlihat wajah seseorang yang sudah kukenal 4 tahun lalu. Dialah Mas Lova orang yang mulai dekat dalam hidupku.

"Hallo... Assalamualaikum mas." Sapaku padanya.

"Wa'alaikum sallam gimana udah siap?" Jawab mas Lova.

"Iya ini sudah mau berangkat." Jelasku

"Baiklah sampai ketemu di sana nanti." Katanya menutup pembicaraan.

Aku menaiki motor dan melaju menembus kabut pagi yang mulai menipis. Lebih dari satu jam perjalanan pagi itu dan tibalah aku di tempat yang sudah menjadi tujuan. Kulihat Mas Lova sudah sampai terlebih dulu. Maklum anak cowok jadi naik motornya lebih cepat pikirku dalam hati.

Aku langsung menghampirinya yang tengah duduk di teras sebuah bank. Ya benar tujuanku pertama memang menuju bank milik pemerintah daerah. Aku berencana untuk mengambil tabunganku yang selama ini kusimpan di bank ini. Sebagai hasil kerjaku di luar negeri beberapa tahun belakangan.

Rupanya kami datang terlalu pagi. Terlihat pintunya sudah terbuka namun belum terlihat satu pegawai pun hadir. Baru terlihat satu pegawai kebersihan tengah membersihkan ruangan.

Aku mengajak Mas Lova untuk sarapan terlebih dahulu. Kami menghampiri tukang bubur ayam yang berada di pinggir jalan tepat di depan bank. Kami menikmati semangkuk bubur ayam untuk mengganjal perut yang sudah mulai lapar.

Tak kemudian terlihat kantor bank mulai buka. Aku segera menghampiri petugas bank yang mulai sibuk untuk mengambil nomer antrian. 

Alhamdulillah masih dapat antrian pertama, gumamku dalam hati.

Aku segera duduk di kursi tunggu untuk menunggu giliran. Tak lama akhirnya aku pun di panggil untuk maju ke depan. Beberapa saat aku berbincang dengan petugas dan sesekali menandatangani beberapa berkas yang diperlukan akhirnya aku selesai dan petugas menyodorkan setumpuk uang pecahan 50 ribuan sebesar 100 juta. 

Alhamdulillah satu langkah sudah terselesaikan kataku senang dalam hati sembari bibir ini tersenyum tipis.

Aku bergegas menghampiri Mas Lova yang masih duduk di bangku ruang tunggu. Mas Lova tersenyum melihatku sudah selesai dan melihat apa yang kubawa di tangan.

"Sudah Cinta?" Tanyanya riang.

"Sudah Mas." Jawabku bersemangat.

Tak lama kemudian aku dan mas Lova langsung menuju kantor Departemen Agama (Depag) yang tak jauh dari tempat kami berada. Kebetulan ini adalah hari Senin, aku berharap semua pegawai ada jadi urusan bisa cepat selesai.

Tak terasa waktu sudah cukup siang aku segera saja menemui pegawai kantor Depag yang bertugas saat itu. Memang sedikit menunggu karena ada antrian akhirnya tibalah giliranku. Tak berapa lama berbincang dengan petugas akhirnya aku mendapatkan apa yang dibutuhkan. Sebuah formulir pendaftaran haji dalam genggaman. Kubaca pela sambil kuisi sebagian data yang diperlukan. 

Merasa sudah cukup dan tak ada lagi hal yang harus kulakukan, aku dan Mas Lova segera pulang dengan senyum bahagia di wajah. Tampak rona bahagia terpancar dari wajahku dan wajahnya. Meski lelah letih karena harus mengantri namun semua itu terbayarlah sudah.

"Lega, ya Dik." Ucap Mas Lova tiba-tiba.

"Iya..." Jawabku bersemangat.

"Kapan-kapan boleh ya, Mas main ke rumahmu?"

DEG

Sesaat aku terdiam, dunia serasa terhenti. Sejurus kemudian entah kenapa aku mengangguk.

"Ya, sudah. Hati-hati di jalan pulang ya. Mas juga mau pulang. Ibuku sudah menunggu, suruh gantian jaga toko katanya....*

Kedua kalinya, aku hanya bisa mengangguk. Kami berpisah. Untuk bertemu lagi entah kapan. Sebelumnya kami hanya pernah dua kali bertemu setelah kepulangan pertamaku.

Aku melajukan kendaraan dengan hati-hati. Uang yang baru saja kuambil, kutaruh bagasi. Seperti pesan Mas Lova tadi.

Sesampainya di rumah langsung kuparkirkan sepeda motor di teras rumah yang mulai teduh. Rumah terlihat sepi, dan tak terdengar sedikit pun suara. Setelah kuucapkan salam namun tak ada jawaban aku bergegas masuk. Benar saja tak kudapati Mamah maupun yang lain berada di rumah.

Baru saja aku masuk kamar untuk mengganti pakaian yang mulai berbau menyengat, tiba-tiba terdengar suara mamah menyapaku dari arah depan.

"Sudah pulang kamu Cinta?" Tanya mamah.

"Iya sudah Mah..." Jawabku singkat saja.

"Memangnya sudah beres urusanmu?" Sambung mamah kemudian.

"Sudah Mah." Sahutku 

Mamah menghampiriku perlahan. Dibawakannya aku segelas air putih untuk menghilangkan dahaga karena hawa panas yang masih jelas terpancar.

"Ini di minum dulu, kamu pasti capek." Kata mamah sambil menyodorkan segelas air putih.

"Terimakasih Mah." Jawabku senang.

Setelah mengganti pakaian aku mengajak bapak dan mamah duduk santai di ruang tamu. Sembari tersenyum kecil, kugandeng tangan mamah yang terlihat mulai berkerut. Sambil bertanya heran mamah mengikuti dengan langkah sedikit berat.

Rupanya bapak sudah duduk bersandar sedari tadi di sofa tua yang mulai sobek di bagian bawahnya. Entah memang sudah tau atau tidak aku sendiri tidak tahu, tapi sepertinya sih belum tahu. Bapak juga memandangi penuh tanya.

"Ada apa ini kok kayak ada hal serius begini?" Tanya bapak padaku.

Kukeluarkan dua buah lembar formulir pendaftaran haji yang didapat dari kantor Depag tadi. Juga setumpukkan uang yang juga baru kuambil dari bank pagi tadi. 

"Apa ini cinta?" tanya mamah dengan sangat terkejut.

"Ini Mah, Pah, formulir pendaftaran haji buat Mamah sama Papah dan ini uangnya buat mendaftar." Jelas ku pada kedua orangtuaku.

"Terimakasih Cinta" ungkap mamah sedikit terharu.

"Ini uang dari mana?" Tanya Mamah.

"Ini uang tabunganku selama ini, semoga cukup untuk biaya Papah dan Mamah berangkat haji." Kataku menjelaskan.

Mamah memelukku erat sembari matanya berkaca-kaca. Serasa tak ingin melepaskan pelukannya mamah memelukku semakin erat. Tak terasa air mataku pun jatuh berurai tak tertahan lagi. Kami larut dalam tangis kebahagiaan.

Aku berharap mamah dan papah selalu sehat sehingga bisa datang ke Mekkah sebagai tamu Allah, harapku dalam hati.

"Mamah sehat sehat ya, Papah juga jaga kesehatan." Kataku menenangkan.

Kami pun kembali tersenyum bahagia sembari memperhatikan lembar demi lembar formulir dan mulai mengisinya.

***

Kamis, 12 Desember 2019

Ulasan Cerma Oleh Joko Septiono


Ulasan Cerma (Cerita Remaja)
Judul Cleo yang Tersakiti
Penulis Betty Irwanti
Oleh Joko Septiono
Kelas Fiksi Odopd7

Hubungan baik antara manusia dan binatang tertuang dalam cerita Cleo yang Tersakiti milik Betty Irwanti. Sila seluncuran bagi yang belum membacanya ya.

Cerita berawal dari perkenalan seorang tokoh aku dengan seekor kucing bernama Cleo. Rasa iba muncul ketika tokoh aku menemukan kucing Cleo yang tak terawat. Akhirnya aku mwlembawanya pulang dam merawat Cleo. 

Dari sinilah mulai terjadi cerita yang sesungguhnya. Cerita yang menguras emosi jiwa. Babak demi babak disajikan dalam cerita ini. Mulai dari kasih sayangnya aku kepada Cleo sampai pada puncak konflik dimana Cleo harus menerima tuduhan dari sahabat yang merawatnya. Hingga jarus kembali terbuang ke jalanan. Yang pada akhirnya Cleo harus memutuskan untuk benar-benar pergi menjauh dari tempat dan orang yang telah melindunginya. 

Cerita dengan tema kasih sayang dan hubungan baik antara manusia dan binatang. Cerita yang sangat menyayat hati bila dipahami dengan sungguh-sungguh. Mengandung nilai dan unsur positif yang dapat diterapkan dalam kehidupan kita.

Alur maju benar-benar jelas terbaca di sini. Dari mulai pengenalan tokoh yang terdapat pada paragraf awal. Sampai pada puncak konflik yang cukup menguras emosi dan mengundang penasaran juga bagi pembacanya. Hingga penyelesaian dengan tetap membuat tinggi emosi. Tetapi tetap dikemas dengan apik. 

Setting tempat lebih dominan menceritakan kejadian di dalam rumah. Meski ada kejadian di tempat lain namun tidak terlalu di ekspos namun tetap menjadi bagian penting dari cerita ini. 

Waktu kejadian cerita terjadi saat pulang sekolah, namun ini pun bukan menjadi titik kejadian ada waktu lain yang dialami tokoh dalam cerita ini. 

Perwatakan tokoh aku yang penyayang dengan penuh kasih sayang merawat Cleo yang terbengkalai di jalanan. Namun tokoh aku juga punya sifat yang kurang baik yaitu berprasangka kepada Cleo yang belum tentu kebenarannya. 
Cleo dengan sifatnya yang penyabar dan rela menerima nasib menjadi pemanis cerita ini. Meski ia hanyalah seorang kucing yang tidak bisa bicara dan tidak bisa membela diri atas segala tuduhan dari tokoh aku.

Unsur moral yang sangat baik tentunya buat yang membacanya. Menjadi penyayang binatang menjadi bagian dari nilai sosial yang musti di miliki setiap manusia. Kesabaran Cleo patut menjadi teladan bagi kita semua.

Penggunaan bahasanya sangat sederhana dan mudah dimengerti. Certa ini sangat cocok untuk anak-anak hingga usia remaja. Cerita yang darat pesan moral ini sangat di rekomendasikan untuk psra bunda bunda sebagai bahan cerita untuk mengantar tidur putra putrinya.

Demikian ulasan ini. Terima kasih.

Sabtu, 16 November 2019

Tugas Pekan 1 Kelas Fiksi : Ulasan Cerpen Ikan Harapan


Ulasan
Lakon di ngodop.com
Cerpen berjudul: Ikan Harapan
Penulis Dyah Yuukita

Oleh Joko Septiono
Member Kelas Fiksi Odop Batch 7

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, selamat sore. Selamat menunggu malam minggu.

Izinkan saya memposting tulisan ini sebagai tugas pekan pertama di Kelas Fiksi. Kelas yang memang saya pilih sesuai dengan pilihan sejak awal ikut Ngodop Batch 7 dua bulan kemarin.
Baiklah, segera saja saya mulai.

-----

Begitu membaca paragraf pertama cerpen yang berjudul Ikan Harapan milik Mbak Dyah Yuukita ini saya langsung terbawa  masuk dalam cerita ini. Paragrap pembuka yang sangat apik. Menarik pembaca untuk bisa larut masuk di dalamnya.

Kisah pilu dua anak yatim piatu yang berjuang hidup di kota besar, kota metropolitan. Harus berjibaku dengan waktu dan keadaan untuk terus bertahan hidup meski banyak halang rintang yang dihadapi.

Tema yang di sajikan cukup ringan namun sangat menarik. Tema sosial yang tertuang dalam cerita ini membuat saya yang baru pertama kali membacanya menjadi mewek. Hanyut dalam suasana di dalamnya. Meski saya termasuk ke dalam golongan laki-laki yang jarang mudah terbawa suasana. Tapi, sungguh saya dibuat melow oleh cerita pendek ini.

Cerita ini sarat akan pesan moral dan nilai-nilai luhur kehidupan. Bekerja keras, kasih sayang, kesederhanaan dan sikap kemanusiaan lain tersaji dengan ringan, mengalir dan mudah dipahami meski saya harus membaca berkali-kali agar menjadi mengerti apa maksud Mbak Dyah sebenarnya.

Penggunaan bahasa yang lugas mempertegas pesan moral yang ingin di sampaikan penulis. Juga penggunaan majas perumpamaan semakin memperjelas pesan yang tersirat di dalamnya.
Sebagai contoh pada kalimat "tenggorokanku kering seperti musim panas di bulan ini"  hal ini sangat jelas menggambarkan keadaan tokohnya yang memang pekerja keras. Sampai-sampai minum saja tidak sempat.

Alur maju yang disajikan mempermudah pembaca untuk mengikuti jalan ceritanya. Mulai dari awal pengenalan tokoh yang di sana tertulis jelas dan terperinci.

Kemudian masuk pada pengenalan konflik. Dimana tokoh mulai mendapat perlakuan tidak baik dari pemilik rumah besar dan juga dari om gendut.

Hingga pada puncak konflik yang tersusun rapih. Dimana tokoh utama beserta adiknya mengalami penganiayaan oleh tokoh antagonis. Sungguh saya benar-benar dibuat geregetan secara tidak langsung. Saya ikut masuk ke dalam alur cerita, saya benar-benar membayangkan apa yang terjadi pada sang tokoh.

Cerpen ini ditutup dengan penyelesaian cukup singkat namun sangat bagus menurut saya.  Sebagai orang yang awam dalam dunia fiksi, saya belajar banyak. Penutup yang menurut saya menggantung. Sehingga pembaca penasaran dan menebak nebak sendiri apa yang sebenarnya terjadi pada tokoh utama.

Penggambaran tokohnya sangat jelas dan kuat. Menggambarkan sosok anak jalan dikota metropolitan yang begitu keras. Hidup dalam balutan sosial yang sangat kurang. Namun sisi penguasaan emosi tokoh utama yang cukup tertata.

Penguatan tokoh dalam cerita ini sangat kompleks. Dari tokoh utama yang hidup kekurangan namun di sisi lain ada tokoh antagonis yang berbalik keadaan.

Penulis benar benar ingin menonjolkan tokoh utama sebagai tokoh sentral dalam cerita  ini. Tak banyak tokoh lain di dalamnya. Sehingga pembaca akan langsung fokus kepada tokoh utama.

Penggambaran waktu dan tempat pun tertulis dengan sangat jelas. Mempermudah pembacanya untuk bisa mengikuti alur yang di sajikan. Mulai dari waktu awal diceritakan sampai dengan akhir cerita sangat mudah di ikuti. Setting tempatnya pun sangat jelas tersirat di sana.

Cerpen yang sangat bagus dan dapat menginpirasi saya dalam membuat cerita. Dari segi pemilihan kata katanya sangat bagus dan mudah di pahami bagi saya yang pemula.

-----

Demikian ulasan saya mengenai cerpen Ikan Harapan yang ditulis oleh salah satu admin grup dan Pj di One Day One Post Batch 7 Kelas Fiksi ini dan ada di ngodop.com edisi bulan Juni 2019.

Bagi yang penasaran ingin membaca, silakan bisa langsung seluncur ke Tautan Cerpen Dyah Yuukita ini.

Salam kenal dari saya untuk semua pejuang Kelas Fiksi dan Kelas Non Fiksi, mohon maaf jika tulisan saya masih seadanya ya. Saya harus banyak belajar dari teman-teman semuanya.

Salam semangat dari 41 kilometer kota Cilacap Bercahaya.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Dari Joko Septiono (Jose)
Ayah Jesi


Kamis, 31 Oktober 2019

Sesuatu yang Hilang Part 2




Part 2

Sesuatu yang Hilang
Oleh Joko Septiono

Kudengar suara sepeda motor menderu. Aku tahu, itu kendaraan roda dua milik istriku yang sedang dinyalakan. Oh, rupanya ia sudah akan berangkat ke Cilacap kota sana. Ya sudahlah. Kuizinkan ia berangkat dengan segala do'a. Semoga harinya dan hariku menyenangkan, juga hari kita semua.

Sejenak aku melupakan, apa yang ia cari. Apakah ia sudah menemukannya? Atau sesuatu yang dicarinya itu benar-benar hilang? Ah, sudahlah. Biarkan saja dulu, sekarang masih terlalu pagi untuk menafsirkan hal yang terlalu berat. Aku masih mengantuk, pergi tidur kembali rasanya jadi jalan terbaik. Siapa tahu, aku bisa menemukan jawabannya dalam mimpiku, sebentar lagi.

Aku tertidur lagi. Merapat kembali, memeluk puteri kecil dalam kesejukan pagi. Aku tidak tahu, jika istriku telah mengirimkan beberapa pesan di WhatsApp grup keluarga. Ia menanyakan sesuatu yang dicarinya sejak tadi. Sesuatu yang mungkin baru saja hilang? Atau sesuai yang sudah lama hilang?

Aku tidak tahu pesan itu, karena belum bisa memegang gawaiku. Semalam aku tidur malam dan menggunakan gawai untuk membuat draft tulisan, jadi pagi ini jadwalnya harus mematikan, demi proses pengisian baterai berjalan lancar dan cepat, tanpa gangguan.

Sejenak aku tak mengingat apapun. Karena sudah fokus pada puteri kecil dan hari ini. Iya, hari ini. Hari Sabtu adalah hari istimewa bagiku. Karena hari ini aku bakalan bermain seharian dengan anak semata wayangku. Sementara istriku? Biarkan dia ikut kegiatan di Cilacap kota sana. Besok baru kegiatan itu akan selesai. Sore nanti saat dia pulang, aku ingin menanyakan apa yang belum bisa kutanyakan pagi ini.

Pagi ini udara sejuk, sempurna membawaku lelap dalam intensitas waktu yang lumayan panjang. Saat tangan mungil menepuk-nepuk pipiku, aku sadar, hari mulai beranjak. Rupanya puteri kecilku sudah bangun dari tidurnya.

"Anak ayah sudah bangun? Do'a dulu yukk!"

"Alhamdulillahilladzii ahyanaa ba'damaa amaatanaa wailaihinnusuur."

Aku mencium kedua pipi, bibir dan dahinya.

"Ayah, ayah. Ayah nggak kerja?" tanya sang putri kecil padaku. Aku hanya menggeleng. Masih berusaha menggenapkan seluruh jiwa dan ragaku. Kan baru bangun tidur, nyawa serasa belum kumpul.

"Ibu, Ibu nggak kerja?" puteri kecil lanjut menanyakan ibunya. Aku juga hanya menggeleng.

"Ayah, ayah. Ibu sekolah?" entah kenapa aku mengangguk. Untung puteri kecil tak serius menanggapi. Ia sama-sama baru bangun tidur seperti aku.

"Ayah, ayah. Kakak Jesi sudah berdo'a tadi. Sebelum tidur."
"Bangun tidurnya sudah?" tanyaku spontan, sambil bangun dan mengambil posisi duduk. Giliran puteri kecil yang mengangguk.

"Ayah, ayah. Apa gawainya ibu di bawa sekolah?"
"Iya, sayang..."
"Gawainya Ayah di mana?"
"Lagi di cas..."
"Apa Kakak Jesi boleh pinjam?"
Aku terdiam.
"Sebentar aja, Ayah. Nggak lama. Nggak lama!" Aku tersenyum. Mengambil posisi berdiri, lalu mencabut kabel pengisian baterai lalu menyalakan gawaiku.

Puteri kecil tertawa kegirangan, tahu apa yang dia minta bakal segera diberikan. Eh, tapi tunggu. Tunggu! Ada bunyi pesan beruntun terdengar setelah gawaiku dinyalakan. Adakah pesan penting untukku sepagi ini?

"Ayah, ayah. Sini gawainya!" puteri kecil bangun dari tempat tidur dan merebut gawai yang sedang kupegang.

Jangan-jangan, bunyi beruntun itu pemberitahuan pesan ya. Tapi dari siapa? Aku berpikir keras, sambil mendampingi puteri kecil bermain gawai kemudian. Apakah itu pesan dari istriku? Atau dari siapa? Sungguh, sungguh aku dibuat penasaran.

Rabu, 30 Oktober 2019

Tantangan Pekan Terakhir: Biografi Singkat Betty Irwanti Joko: Pj Odop Batch 7



Untukmu, PiJe, Kekasih Hatiku 

(Biografi Betty Irwanti Joko: 
Pj Odop Batch 7 Grup Tokyo)
Oleh Joko Septiono 

Untukmu, Ibu Jesi yang selalu di hati
Biografi ini aku persembahkan 
Seperti tulisan-tulisan yang sering kausuguhkan
Anggap ini sebagai balasan

Sayang, terima kasih telah mengajakku di kelas menulis yang luar biasa  ini. Saat pertama kali engkau mengajak, kupikir aku takkan bisa bertahan hingga sejauh ini. Nyatanya, aku mampu dan aku bisa. Semua ini jelas sebab karenamu dan karena-Nya.

Izinkan aku menuliskan biografi ini, untukmu, PiJe, Kekasih Hatiku.

🌷

Betty Irwanti itu nama lengkapnya. Wanita kelahiran kota pinggiran selatan pulau Jawa, 32 tahun lalu ini memang luar biasa. Kiprahnya di dunia menulis memang masih tergolong baru. Memulai aktivitas menulis sejak akhir tahun 2017, ibu dari Cleverona Bintang Aljazira ini punya segudang prestasi yang sangat membanggakan. 

Beberapa buku telah lahir dari coretan ibu yang satu ini. Salah satu karyanya yang cukup fenomenal adalah novel Isa Bella. Novel perdana yang bercerita tentang kisahnya meraih impian hidup. Novel yang membuatnya bisa siaran di Yes Radio, radio kebanggaan masyarakat Cilacap dan sekitarnya.

Buku kedua berisi cerita dan kisahnya menjalani Ramadhan 1440 H lalu. Buku berjudul Staring baru saja selesai cetak dan siap menyapa pembaca di seluruh penjuru negeri bahkan ke luar negara. Bahkan rencananya, buku ini juga akan membawanya siaran radio kembali untuk kali kedua.

Buku ketiga terasa sangat istimewa, komik berlatar belakang sejarah lokal Cilacap. Komik Iam Prana adalah hasil kolaborasi bersama komikus yang masih berstatus mahasiswa. Komik ini dibuat setelah mengikuti acara Cilacap Heritage Fellowship Program pada bulan September 2019. Rencananya, pada tanggal 5 November 2019, awal minggu depan, komik ini akan dilaunching di Dakota Cinema yang terletak di lantai 3 Pasar Gede Cilacap Kota bersama karya para peserta CHFP lainnya.

Komik Iam Prana telah dicetak 500 eksemplar. Bisa jadi jumlah segitu akan habis dalam satu waktu saja, apalagi saat launching dilaksanakan. Sebab hasil karya CHFP akan dibagi ke Dinas-dinas di Cilacap (semua meja Kepala Dinas), guru-guru MGMP Sejarah di SMP/SMA/SMK di Cilacap, perpustakaan dan ruang-ruang komunitas literasi.

Buku solo keempatnya sudah selesai menjadi draft, saat ini sedang dalam tahap self editing. Sambil terus menulis draft kasar untuk buku solo kelimanya, ia harus berbagi konsentrasi pada tugas yang baru, sebagai guru kelas 1 dan 2. Kelas 2in1, dia biasa menyebutnya. Kelas yang benar-benar menyita konsentrasi dan waktu. Otomatis intensitas menulisnya berkurang, demi fokus mendampingi anak-anak didik tercinta. 

Kesibukannya sebagai seorang guru PNS tak lantas membuatnya meninggalkan dunia menulis. Kini, ia maksimalisasi malam harinya untuk menulis. Itulah sebab Nyonya Joko Septiono ini juga cukup aktif di beberapa komunitas literasi  dan kepenulisan. Bahkan ia masih dalam tugas menjadi salah satu penanggung jawab grup di Open Recruitmen One Day One Post Batch 7. Kelas menulis yang juga sedang diikuti oleh suami tercintanya.

Mengajar di SD Negeri Binangun 01 Kecamatan Bantarsari Kabupaten Cilacap adalah aktivitas kesehariannya. Membersamai anak-anak sejak tahun 2005 menjadikannya penuh dengan ide dan inspirasi dalam kegiatan menulisnya. Hal ini jugalah yang mendorongnya untuk selalu berdiskusi dengan suami yang berada dalam satu bidang pekerjaan. Untuk setiap hal yang bisa diuraikan menjadi kisah layaknya sejarah.

Wanita yang satu ini memang cukup bangga menjadi pribumi asli. Ibu yang satu ini menempuh pendidikan dari SD sampai mengenyam bangku kuliah hanya di kota Cilacap. Hingga kini dia pun masih aktif mengajar di kampung halamannya. Jarak rumah ke sekolah yang kurang dari lima puluh meter itu membuatnya betah. Meski begitu, ia terus istiqamah membersamai suaminya yang setiap hari harus menempuh jarak puluhan kilometer demi sebuah perjuangan untuk menjemput rezeki halal dan barakah.

Anak sulung dari tiga bersaudara ini telah menikah selama enam tahun dengan Joko Septiono, tetangganya sendiri. Kisah yang sangat berliku, dituangkan semua dalam buku solo perdana yang pada paragraf awal telah disebutkan judulnya.

Kisah-kisah lain akan segera dituliskannya, entah itu kisah pribadi atau kisah orang lain yang dibukukan, ia punya cita-cita mendukung suaminya untuk menerbitkan buku. Buku duet yang semoga di tahun depan bisa direalisasikan nantinya. Semoga saja.

🌷

Demikian biografi ini kutuliskan, untukmu PiJe, Kekasih Hatiku. Istriku tersayang, Nyonya Betty Irwanti Joko Septiono. 

Mohon maaf jika ada yang terlewat, lain waktu akan kutambahkan.

Dariku,

Senin, 28 Oktober 2019

Ayah Jose Berharap




Ayah Jose Berharap


Memasuki pekan terakhir Ngodop, rasanya hati ini berdebar. Kenapa? Karena tidak terasa juga ya, hampir dua bulan penuh saya menuliskan apa yang ada di pikiran menjadi sebuah cerita yang suatu suatu saat bisa jadi menjadi kisah.

Kemarin, saya menemani istri, dengan membawa serta puteri kecil kami ke acara kopdar para blogger area Cilacap dan sekitarnya. Ah, saya pikir acara bakal ramai. Ternyata hanya segelintir orang yang datang dan kegiatannya memang santai, tidak resmi seperti yang saya bayangkan. Saya juga tidak terlalu memperhatikan karena harus menjaga Kakak Jesi.

Saya berharap kelak, bisa ikut bergabung bersama mereka. Menjadi blogger yang berguna dan menghasilkan. Saya berharap kelak, saya bisa menjadi seperti istri yang sudah banyak menghasilkan karya dari aktivitas ngeblognya setiap hari.

Saya berharap, di pekan terakhir Ngodop ini, saya bisa bertahan dan lulus dengan banyak ilmu yang saya dapatkan. Meski saya sering diam dalam berbagai kesempatan, tapi saya banyak mendengarkan ulasan dari istri yang sebenarnya dia sering juga jadi silent reader. Tapi kemampuannya menyimak, luar biasa. Sungguh, dia memang anugerah Tuhan dari Yang Maha Kuasa bagi saya.

Besar harapan saya, kelak bisa menjadi blogger sekaligus penulis yang bisa bersinergi sepenuhnya dengan sang istri. Karena darinya-lah saya banyak belajar. Sebab dia adalah guru pertama dan idola.

Terima kasih sayang, you are my Best. You are my energy of my life.

Minggu, 27 Oktober 2019

Love in Bali Part 8



Love in Bali Part 8
Oleh Joko Septiono

Pak Brahim adalah salah satu orang yang memuji kemiripanku dengan wajah Bella. Aku masih ingat beberapa waktu lalu saat aku dan Bella mengunjungi rumah beliau. Saat itu kami sedang mencari donatur untuk acara yang hendak kami adakan.

Pak Brahim memuji kemiripan wajah kami. Bahkan menganggap bahwa aku dan Bella adalah kakak adik. Kami hanya tersenyum dan tersipu mendengar ungkapannya.

Sungguh buatku itu sebuah doa dari sang kyai. Iya, Pak Brahim adalah juga seorang kiyai. Seorang tokoh ulama yang kemudian merambah dunia politik kemudian.

Pak Brahim beliau adalah salah satu anggota dewan yang berasal dari desa kami. Beliau juga guru ngajiku waktu masih SD. Beliau tidaklah asing bagiku dan Bella.

Kami sudah mengenalnya sejak kami masih kecil. Aku mengenal pak Brahim sebagai guru sekaligus sebagai orangtua kedua.

Keakraban ini yang membuat beliau sangat mendukung hubunganku dengan Bella. Karena beliau juga mengenal Bella dan juga keluarganya.

Sabtu, 26 Oktober 2019

Love in Bali Part 7



Love in Bali Part 7

Tak hanya satu orang yang  berkomentar mengenai kemiripan wajahku dengan wajah Bella. Ada beberapa orang yang mengatakan hal demikian. Kembali lagi aku sendiri tak tahu dari mana miripnya.

Dialah Murni, orang kedua yang mengatakan kemiripan kami. Murni teman kerja Bella yang juga tetangga satu RT denganku. Dengan komentar yang sama seperti yang pernah kudengar dari iin.

Sore itu aku dan Bella memang sengaja berkunjung ke rumah Murni yang kebetulan jaraknya tak begitu jauh. Hanya kurang lebih butuh waktu 3 menit untuk sampai ke rumahnya. Aku dan Bella memang sering berkunjung ke rumahnya. Entah karena ada perlu penting ataupun sekedar main untuk mengobrol.

Seperti yang kali ini kami lakukan. Kami berkunjung tanpa perlu ada Hal apa pun yang mendesak penting. Aku dan Bella hanya berkunjung karena mendapat undangan dari Murni. Kami hanya mengobrol ringan seputar pelaksanaan acara reuni yang sudah tetlaksana beberapa waktu lalu.

Aku ikut terlarut dalam obrolan yang santai penuh canda. Aku yang duduk di sofa sesekali membuang pandanganku ke arah Bella. Bella yang mengetahui hal itu sedikit membalas tatapanku.

Sesekali murni juga menggodaku dan Bella.  Dengan kata-katanya dia berupanya mencari tau tentang hubungan kami. Aku hanya bisa tersenyum atau sesekali tertawa lebar untuk menanggapi semua itu.

ULASAN PADAT BUKU JUZ 'AMMA TAFSIR AL AZHAR

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Semangat pagi dari kota Cilacap Bercahaya. Semoga kita senantiasa dalam keadaa...